Antara Solo, Jogja, dan Jakarta

Solo, tempat semua cerita ini dimulai. Tiga orang bocah yang baru lulus SD dan belum tau apa-apa. Lugu, polos, culun. Dan secara tidak sengaja bersekolah di tempat yang sama. Pertama hanya aku dan kamu, lalu kita bertemu dia saat kita mulai beranjak dewasa, 1 SMA. Ditempat ini kita tumbuh besar bersama, dari seorang bocah kecil yang lugu dan polos, menjadi seorang gadis yang tegar dan kuat. Dan masa-masa SMA itu paling berarti dalam kehidupan kita.

Pernahkah dulu kita berpikir akan memiliki kehidupan yang seperti ini? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Dulu kita bisa berbagi dengan begitu mudahnya. Melihat bagaimana mimik dan ekspresi wajah masing-masing diantara kita saat kita berbagi cerita. Banyak yang bisa dibagi, bahagia, sedih, kesel, marah. Sampai kita tidak merasa bahwa saat itupun kita sedang terkurung. “terkurung” mungkin kurang tepat. Lebih tepatnya “dikurung”. Pagar-pagar tinggi dan kawat yang berkarat tidak akan mampu membawa kita menuju “dunia lain” diluar sana. Yang ada hanya ada aku, kamu, dia ; KITA.

Ingatkah dulu saat kita berbagi cerita diteras itu? Malam itu hanya ada suara jangkrik dan lampu temaram. Dulu lampu itu serasa tidak ada artinya sama sekali, bahkan kita mengabaikannya, menganggapnya seolah tidak ada. Dan ternyata, sekarang barulah kita menyadari kalau hanya lampu itu dan teras lah yang menjadi saksi bisu akan kebersamaan kita selama ini.

Ingatkah dulu saat kita berhasil menembus dinding batas antara “dunia kita” dan “dunia luar” itu??? Ada perasaan bahagia, puas, lega. Semuanya bercampur jadi satu. Hingga rasanya ingin berteriak “aku bebaaassss!!!”. Padahal, itu hanyalah kebebasan kita yang hanya sesaat, singkat, namun cukup berarti banyak.

Tahukah kalian kita punya kesamaan dalam hal mengagumi seseorang? Kita hanya bisa mengagumi dari jauh tanpa berusaha untuk mendapatkan. Berbeda dengan si F yang bisa mendapatkan si Y, meskipun itu terjadi setelah kita keluar dari “penjara suci” itu. Berbeda pula dengan si P yang bisa mendapatkan si F dengan mudahnya. Sekali lagi, kita hanya bisa memandangi dan mengagumi. Hingga secara tidak sadar kita telah menutup hati kita untuk para pemuja kita. Hingga akhirnya kita tersadar dari kebodohan kita akan hal “mengagumi”, dan mulai membuka hati untuk pemuja kita. Meskipun tanpa menghilangkan cara “mengagumi seseorang” yang kita anut itu. Dan ternyata, memang mengagumi seperti itu hanya akan menambah luka hati. Ternyata benar, lebih baik mencintai orang yang mencintai kita, daripada mencintai orang yang kita cintai. Karena orang yang kita cintai belum mencintai kita pula. Namun, orang yang mencintai kita sudah pasti cinta dengan diri kita. Dan berkuranglah rasa sakit hati itu.

Dan ingatkah kamu saat detik-detik itu tiba?? Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Bahkan kita pun tidak percaya bahwa saat ini telah tiba. Saat-saat mengharukan yang sangat kita nantikan, tapi disisi lain, saat-saat ini pula yang kita takutkan. Saat-saat kita menuai hasil dari jerih payah dan perjuangan kita selama 6 tahun. Dan saat itulah kita sadar, kalau tempat itu akan menjadi tempat penuh sejarah bagi kita. Banyak kenangan yang  tertinggal, banyak hal tak tergantikan di tempat itu. Ternyata inilah konsekuensi yang harus kita jalani dari jabat tangan kita 6 tahun yang lalu : PERPISAHAN.

Hingga tibalah kita pada kehidupan yang  sebenarnya, “Dunia luar” yang mempunyai banyak tantangan dan godaan. Dan kita pun dihadapkan pada bermacam-macam pilihan. Aku memutuskan pergi ke Jakarta, dia tetap di Solo, dan kamu di Jogja.

Tahukah kalian terkadang aku merasa menyesal? Menyesal akan apa yang menjadi pilihanku. Meninggalkan kalian sehingga kita mempunyai jarak beribu kilometer. Tak akan ada ekspresi dan mimik muka saat kita berbagi cerita, dan semua terasa HAMBAR!!!

Dan ternyata “dunia luar” memang keras. Kita bagaikan anak ayam yang baru lepas dari kandang. Belum tahu banyak tentang apa yang terjadi di dunia yang sangat asing ini. Aku, kamu, dia memiliki hal terburuk setelah lepas dari “dunia kita”. Mulai sedikit intensitas kita untuk bisa berbagi, merasakan kebahagiaan dan penderitaan satu sama lain. Hingga tidak terasa, sadar atau tidak kita mulai terkalahkan oleh waktu dan jarak. Sebenarnya, tidak ada persahabatan yang abadi. Yang ada hanyalah orang-orang yang berusaha mempertahankannya. Lovers come and go, but friends are here to stay.

Buat sahabat-sahabatku tercinta,

Erliya Ika Rahmawati & Anissa Rohmati

The distance can’t separate us, it makes us to be a better person

7 thoughts on “Antara Solo, Jogja, dan Jakarta

  1. bertemu-berpisah adalah rahmat dan kasih-NYA…..
    dalam perpisahan….terdapat keindahan dibaliknya…yaitu kesadaran bahwa orang yang dimata qt biasa saja rupanya begitu berarti,begitu qt sayangi dan butuhkan

    Tapi itu adalah keindahan yang memang menyakitkan

    sama kok..q bisa ngrasain..heee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s