Dibalik Jeruji
Dia telah terbiasa. Hidup di dalam keterbatasan. Hidup di dalam tekanan. Hidup di dalam keterpaksaan. Hidupnya bukan miliknya. Hidupnya bukan dia yang menentukan arah. Teringat 10 tahun yang lalu, saat ia tak bisa memilih jalan hidupnya. Ya, hidupnya ditentukan. Dia tak punya pilihan.
Saat itu orang itu berkata “Pergilah ke dalam jeruji.” Jeruji yang menurut banyak orang suci, tapi tidak ketika kau merasakan berada di dalamnya. Saat itu ia merengek, memohon agar dibiarkan tinggal dalam pilihannya. Orang itu menolak seraya berkata “Ini demi kebaikanmu”. Saat itu ia tau, hidupnya bukan lagi miliknya.
Hidup dalam sesuatu yang bukan pilihanmu sangat menyakitkan, tahun demi tahun terasa bagaikan neraka. Hingga semua itu berlalu, rupanya ia masih akan dilemparkan ke jeruji yang lain. “Kamu harus kesini”, kata orang itu. Ia berusaha menolak dan berkata, Aku sudah dewasa, aku berhak menentukan hidupku. Hidupmu bukan milikmu, kata suara itu. Saat itu ia tau, ia tak punya pilihan. Masuklah ia kedalam jeruji untuk yang kedua kalinya.
Saat ini ia terbiasa hidup dalam jeruji, dalam jeratan orang itu. Yang berkata semua itu demi kebaikannya. Ia tak punya pilihan, ia tak bisa menentukan. Hingga kini ia kehilangan arah. Ia terbiasa dikekang, ia tak boleh memilih, hidupnya ditentukan oleh sang diktator. Ia tak bisa berekspresi, jiwanya mati, pikirannya mati. Ia terlalu kaku, ia terlalu takut untuk menjalani kehidupan diluar. Hidupnya hanya akan dibalik jeruji. Selamanya.
Posted on Juni 16, 2011, in Random and tagged jeruji, kehidupan, kisah. Bookmark the permalink. 1 Komentar.


semakin lama ditindas, semakin membatu hatinya, tidak lagi merasakan apapun. kadang malah menikmatinya